Sentilan Intervensi Dini

October 5, 2009 by: admin

Kata mama, waktu kecil dulu saya paling takut pada badut. Jadi kalau anak-anak lain berlarian mendekat saat ada badut lewat, saya malah berlari menjauh dan menjerit-jerit ketakutan!, saya sendiri heran, saya tidak ingat sampai sebegitu takutnya dengan badut, karena yang saya ingat justru saya senang berfoto-foto dengan badut, juga menari-nari dengan badut saat acara ulang tahun teman atau saudara, dan itu ada bukti-buktinya…………..” cerita Monica, teman saya yang pendiam, dengan antusias saat ditanya tentang ingatan masa kecilnya. Lain lagi pengakuan Hardy, teman saya yang berbadan tegap ini mengungkapkan ceritanya yang agak menyeramkan tetapi sama sekali tak berbekas dalam lemari ingatannya, dengan ringan “saat saya belum lancar berjalan dan masih sering di taruh di boks kayu besar semacam kerangkeng bayi yang dirancang sendiri, untuk saya bisa bebas bergerak tetapi aman dan tidak perlu ditunggui atau diawasi terus-menerus, saya pernah asyik bermain-main dengan seekor ular yang masuk ke ‘sarang saya’ itu tanpa sengaja! Waktu itu daerah rumah saya memang masih rimbun di kelilingi pohon-pohon yang menghutan, Anehnya ular itu terlihat sangat jinak dan tidak menyakiti saya walaupun saya mempermainkan dia sedemikian rupa. Ibu saya sempat pingsan, dan ular itu di halau oleh tetangga yang ramai-ramai berdatangan karena jeritan ibu saya. Ayah atau ibu saya selalu mengulang cerita ini di hadapan saudara maupun teman-teman, tetapi sampai saat ini saya tidak pernah punya ingatan apapun tentang hal itu, dan tetap takut kalau ketemu ular, ha…ha…. ha …ha….”
Kedua teman saya di atas mungkin hanya ‘salah dua’ dari sekian banyak orang-orang di sekitar kita atau bahkan kita sendiri mengenai ingatan masa kecil yang tidak terekam oleh kemampuan mengingat kita. Ketika hal-hal itu diceritakan pada kita, biasanya dari orang-orang terdekat, apalagi menyangkut pengalaman yang bisa saja berbeda dari apa yang terjadi saat kemudian, mungkin saja kita juga tidak begitu percaya dan agak menyangsikan kebenarannya, ‘masa iya sih?’. Tetapi itulah yang terjadi. Adalah Sigmund Freud, bapak psikologi analisa, menjadi orang pertama yang merumuskan teori infantile amnesia (amnesia masa kanak-kanak). Beliau menyatakan bahwa kita menyembunyikan ingatan akan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum usia tiga tahun. Para ilmuwan meyakini bahwa ketidak-mampuan kita mengingat kejadian yang kita alami saat masih bayi hingga kira-kira usia tiga tahun (batita), lebih banyak berhubungan dengan dengan sistem syaraf otak yang belum berkembang dan keterbatasan kemampuan berbahasa pada anak-anak. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ingatan manusia mulai terbentuk ketika kemampuan untuk memahami secara utuh berkembang dalam diri seorang anak. Dan itu biasanya terjadi pada usia sekitar empat tahun. Pada usia ini anak-anak mulai dapat menggunakan kata-kata untuk ‘mengarsipkan’ ingatannya. Sejalan dengan itu menurut teori perkembangan Piaget, usia batita (khususnya 0 – 2th) merupakan periode perkembangan kognitif sensorimotor. Pada periode ini anak-anak belajar melalui indera dan gerakan serta dengan berinteraksi dengan lingkungan fisik sekitarnya. Karena itu saat periode ini anak belajar melalui bergerak, menyentuh/meraba, memukul, menggigit dan memanipulasi obyek-obyek secara fisik. Sedangkan usia sekitar 2 – 4th, digolongkan oleh Piaget sebagai periode subtahapan berpikir prakonseptual. Artinya pada periode ini, setiap anak mulai mengenal simbol dalam cara berpikirnya, termasuk simbol berbahasa.
Karena itu boleh dikatakan usia batita, merupakan usia dimana seluruh perilaku anak masih pra-verbal. Jadi, coba pikir dan bayangkan yang terjadi pada anak berkesulitan belajar (ABB) pada khususnya dan terlebih pada anak berkebutuhan khusus (ABK) pada umumnya. Pada mereka banyak disfungsi (kegagalan kerja) modalitas perkembangan yang dialami. Terbayang bukan kesulitan mereka di kemudian hari dalam perkembangannya?.
Nah, karenanya diperlukan banyak ban­tuan dan latihan bagi ABK (dan ABB) untuk menyiasati hambatan per­kem­bangan dan belajar yang mereka ala­mi. Intervensi dini secara terstruktur (formal) yang merupakan bantuan awal dalam pendampingan perkem­banga­n, menjadi kebutuhan bagi me­re­ka. Inipun, tidak dapat dilakukan oleh hanya satu bidang bantuan. Pe­nye­lenggaraan pelayanan intervensi di­ni, yang merupakan sebuah usaha ker­jasama interdisipliner, tidak akan efek­tif jika diselesaikan secara sendiri-sendiri. Jadi sekarang, kepedulian ini tampaknya menjadi penting untuk segera kita bangun dan wujud-nya­takan, karena jika tidak sekarang – ka­pan lagi ? dan jika bukan kita siapa lagi, ?

Dikembangkan dari berbagai sumber, ide awal dari kiriman via e-mail MEHESIKA NUGALEWA, dalam kilas fakta Reader’s Digest Indonesia, 2003

Leave a Reply