Jangan Ragukan Anak Spesial

September 30, 2009 by: admin

Kalau kita perhatikan keseharian anak-anak special, mereka berkembang dan tumbuh bersama keunikan yang dimilikinya. Anak yang hiperaktif, bak gasing tidak bisa diam, anak autis yang senang bermain sendiri dengan dunianya, anak autis dan ADD yang memiliki ingatan sangat kuat tentang peristiwa ke belakang yang sudah terjadi, dan juga yang akan terjadi (anak Indigo), begitu juga dengan anak Down Syndrome dan anak tunagrahita. Mereka semua memiliki talenta yang luar biasa, salah satunya dalam bidang melukis.

Hal itu juga terjadi pada Thalia Tanius. Pada Tahun 2005, atau saat umurnya menginjak lima tahun, ia memenangkan juara pertama melukis di ajang lomba lukis dunia, khusus untuk anak Disable di Italia. Di negeri spaghetti ini, Thalia, menyisihkan ratusan peserta lain dari seluruh dunia. Thalia yang autis, tampil penuh percaya diri dengan talenta melukisnya.

Seperti juga seperti Thalia, Robby Eko Rahardjo (11) dan Ratu Anisa Hasim (8) yang termasuk anak Down Syndrome, juga Ravenia (12), tuna rungu, pada tahun yang berbeda menjadi juara pertama di kejuaran melukis dunia di Italia. Yang luar biasa Rizky Satria (16), slow learner, mendapatkan hadiah Special Prize, dalam ajang lomba lukis dunia yang di ikuti anak-anak ‘normal’ di India, pada tahun 2006. Selain itu Kenny Chandra (14), juga seorang autis, mendapat juara tiga dalam lomba gambar yang diikuti anak-anak ‘normal’ se ASEAN. Terakhir, Michael Rosihan Jacub (14), autis, mendapatkan Special Prize, dalam lomba gambar di Iran yang diikuti anak-anak ‘normal’. Anak-anak juara ini belajar melukis di Sanggar Gambar Anak-anak Cissie.

Menurut dr. Cissie Nugraha, MARS, pendiri dan pendamping utama Sanggar Gambar Anak-anak Cissie, anak-anak special tersebut menjadi juara karena mereka memiliki talenta yang luar biasa. Sanggar hanya memberikan jalan dan bimbingan. “Sanggar ini tidak bermaksud melahirkan Afandi-Afandi pada masa mendatang. Tapi hanya mencoba menuangkan kekayaan mimpi maupun imajinasi dari seorang anak ke dalam sehelai kertas, mengantar anak ke dunia khayalan, yang oleh kemajuan jaman dan tuntutan kebutuhan telah lama mereka tinggalkan dan coba lupakan,” ujarnya.

Dari berbagai latar belakang anak-anak yang belajar di Sanggar Cissie, anak-anak spesial memiliki prestasi yang lebih menonjol. Bagi para pendamping, yang memiliki latar belakang pendidikan kesenian dari Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Negeri Jakarta, mendampingi anak-anak spesial membutuhkan kesabaran dan pemahaman tentang kondisi kejiwaan anak. Buah manis dari kesabaran para pendamping ini adalah prestasi yang ditorehkan anak-anak spesial dalam berbagai perlombaan gambar berskala internasional.

Berbeda dengan jam belajar di tempat lain, jam masuk diserahkan kepada anak didik. Kalau mereka sudah cukup istirahat, sudah siap belajar, mereka dapat memulai belajarnya. Durasi waktu belajarnya sendiri mulai dari 30 menit sampai 2 jam, tergantung kesukaan anak-anak. Kalau lagi bad mood, 30 menit sudah selesai. Tapi kalau lagi good mood bisa sampai 2 jam menggambarnya. Para anak didik itu belajar di sebuah ruangan yang didesain dengan bentuk klasikal, dimana mereka duduk bersama dalam satu meja panjang yang mampu menampung 4 sampai 7 anak.

Cissie menjelaskan, kegiatan melukis ini merupakan salah satu treatment dalam upaya menyeimbangkan kerja otak kiri dan otak kanan. Dalam keseharian, katanya, anak-anak lebih banyak memakai otak kiri, seperti untuk berhitung dan menulis. Sedangkan otak kanan jarang sekali dipakai.

Padahal, dengan memaksimalkan kerja otak kanan, anak-anak dapat mengoptimalkan talenta berkeseniannya, dan memperkuat empati solidaritas sosialnya. Saat dunia didominasi oleh pemimpin yang lebih banyak menggunakan otak kirinya, keserakahan dan nafsu merusak menjadi panglima. Akibatnya, anak-anak generasi penerus di warisi alam yang rusak dan loss generation.

Bagi orang tua anak spesial, dr. Cissie menyarankan, agar orang tua jangan pernah malu memiliki anak spesial, jangan pernah menyerah dalam mendampingi anak special dan jangan pernah ragu terhadap prestasi anak special. Karena, tambahnya, anak-anak ini telah dikaruniai talenta yang luar biasa. Anak-anak didiknya yang spesial telah membuktikan bahwa anak spesial juga dapat menjadi juara, walaupun harus berlomba dengan anak-anak ‘normal’.

Leave a Reply